Jumat, 27 April 2012

Agustus 2010

Ini adalah awal dari keberhasilan saya, berhasil mengukir senyum di wajah ayah dan ibu, berhasil membuat beliau menangis bangga. Mungkin itu juga yang dirasakan kebanyakan sarjana di luar sana. 3 tahun 9 bulan saya tempuh bukan tanpa halangan. Datang ke kota pelajar ini dengan berbekal ijazah SMA dan semangat. Semangat menuntut ilmu dan semangat mengukir mimpi. Seperti pepatah arab yang mengatakan "Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina". Kalau boleh saya plesetkan sedikit, "Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Ngayogyakarto". Inilah impian saya ketika masih duduk di bangku SMP, bisa merasakan atmosfer kota Yogyakarta bahkan sekarang saya mendapat lebih dari itu.  Energi saya semakin bertambah ketika memandangi mata si pemilik wajah teduh. Ayah. Matanya menyiratkan harapan-harapan besar pada putri kecilnya, do'a ibu pun tidak luput mengiringi langkah saya. Tahun 2006 pasca gempa Jogja, saya pijakkan kaki di bandara Adi Sudjipto Yogyakarta. Puing-puing sisa reruntuhan akibat gempa masih bisa saya nikmati ketika mata ini menyapu lembut kota penuh budaya dan penuh keramahtamahan. Saya mulai menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri dan santri di salah satu Pondok Pesantren di Yogyakarta. Ya ! Ayah dan ibu terlalu peduli dan khawatir hingga saya harus ditempatkan di pondok pesantren, dengan harapan selain bisa menambah kegiatan dan memperkuat basic agama, ayah ibu juga berharap putri kecilnya ini dijaga oleh orang-orang yang bertanggung jawab.
Target harus dirancang sedetail mungkin untuk beberapa tahun ke depan. Karena, hari ini bukan dimulai dari pagi tadi. Mau jadi apa jika kita tidak merencanakan apa yang ingin kita gapai. Bahkan seharusnya kita harus membuat schedule untuk hari ini, besok dan seterusnya. Dan jangan lupa sertakan deadline agar kita termotivasi untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita. Setiap hari kita harus menghasilkan sebuah program bermanfaat dalam hidup kita, dan akan lebih baik jika bisa bermanfaat juga untuk orang lain. Misalnya, dalam sehari kita bisa mengkhatamkan 2 juz ayat-ayat al-Qur'an minimal, mengikuti seminar-seminar yang membangun, mengikuti kajian-kajian yang menguatkan keimanan, membaca buku-buku bermanfaat, bersedekah, mengerjakan tugas kuliah, dan mungkin banyak kegiatan yang kita lakukan yang bukan kita sendiri yang mengambil manfaat tapi orang lain juga bisa merasakan manfaatnya.
Yuk, kita lakukan ini bareng-bareng :

Niat
Niat menjadi hal yang pertama dan utama ketika kita melakukan sebuah pekerjaan (amal), apalagi pekerjaan itu merupakan bagian dari hajat terbesar kita. Dan jangan lupa, selalu memperbaharui niat kita karena di pertengahan jalan pasti banyak yang kita hadapi dan banyak halangan yang bisa  membelokkan niat awal kita.

Minta restu orang tua
Ridho nya Allah selalu mengiringi ridho ayah dan ibu. Apalagi seorang ibu, do'a-do'a yang dipanjatkan untuk anaknya akan memberi kontribusi besar bagi kemudahan hajat yang dilakukan sang anak. Buat yang jauh dari orang tua, yuk biasakan kirim SMS tiap pagi ke ayah dan ibu untuk minta do'a agar Allah memudahkan urusan setiap harinya. Syukur-syukur kita bisa telfon beliau. Buat yang belum bisa mandiri alias belum berani nuntut ilmu ke tempat yang jauh, datangi ayah ibu lalu cium tangannya sambil bilang, "ayah, ibu, minta do'a restunya agar Allah memudahkan urusan hari ini". Gampangkan !!!

Buat Target
Yuk kita bikin kreasi yang bisa mempercantik kamar dan pastinya menyegarkan semangat kita jika melihat hasil kreasi yang luar biasa. Kreasi itu adalah Target kita dan Mimpi-mimpi kita. Boleh koq ditulis gede-gede apalagi kalau mau diwarnai g ada yang ngelarang. Target yang kita tulis di dinding-dinding kamar itu sebagai pengingat bahwa kita punya mimpi yang harus kita realisasikan. Target yang kita buat harus serinci mungkin. Misalnya, target lulus maximal 4 tahun. Lalu kita rinciin mata kuliah apa aja yang diambil persemester yang nantinya di semester akhir kita g kelimpungan gara-gara ada mata kuliah yang ketinggalan alias belum keambil. Masih mending mata kuliahnya bisa diambil di semester 7 atau 8, masih bisa dikejar dan disambi ngerjain skripsi, lha kalau baru tau semester 8 dan mau g mau diambil semester 9 atau lebih parah lagi semester 10, waaah bisa nangis sambil guling-guling. Yuk, jadi mahasiswa berencana. Merencanakan hajat-hajat yang luar biasa. Dinding kamar kita juga boleh koq dipenuhi kalimat-kalimat motivasi. Misalnya, kalimat motivasi dari someone yang nempel di dinding kamar saya. Luar biasa tuh kalimat bisa jadi cambuk buat saya ketika saya galau (bahasa gaulnya kalau lagi males belajar)
"Kalau kamu ga ngerasa tertantang, ya udah main di belakang layar aja !
 Ga usah jadi sang juara
 Ga usah hidup di dunia nyata
 Ga usah kuliah jauh-jauh di jogja
 Dan minta jangan dilahirin aja"
Semoga dia juga termotivasi dan jauh lebih bersemangat dari saya. Spasiba Balshoi ^^

Pasang target IPK
Grade Point Average (IPK) menjadi tolok ukur seberapa jauh kemampuan kita di tiap semester. Ya! kita harus menargetkan setiap semester berapa IPK yang kita dapat. Misal, Semester 1 harus bisa Cumlaude, minimal 3.51 deh. Semester 2 bisa di atas itu dan seterusnya. Kalau ada mata kuliah yang g lulus, yuk segera perbaiki atau kita perbaiki mata kuliah yang kita ambil semester berikutnya. Bisa tuh mata kuliah yang ngulang kita selipin di semester yang mata kuliahnya agak longgar (sks nya dikit). Bisa juga ambil Semester Pendek (SP) untuk perbaiki mata kuliah tersebut. Semoga tidak jadi kemelut dalam hidup kita, karena semua itu mudah jika dalam fikiran kita terkonsep "kita bisa menyelesaikannya".

Rancang kegiatan harian
Wajib lho hukumnya kita buat schedule harian biar kita tau kita ini bisa menghasilkan apa hari ini. Pastinya hal positif dong ya ! Perpustakaan bisa jadi tempat ternyaman lho kalau kita menikmatinya.

Pilih teman yang bisa ikut merealisasikan target
Teman yang baik adalah teman yang membawa manfaat buat orang lain. Nah, cari deh teman yang seperti itu. Yang bisa mengarahkan kita, mengingatkan kita, dan tersenyum ketika kita sukses.

Keseimbangan prioritas dan organisasi
Organisasi adalah tempat di mana mahasiswa mencari kesibukan, mencari jati diri, mencari wadah untuk mengaktifkan kreatifitas dan bakat yang ada dalam diri dan tentunya mencari pengalaman yang sangat berharga di luar ruang perkuliahan. Tapi mahasiswa yang keren dan luar biasa itu, yang punya dua status (mahasiswa & aktivis), yang bisa menyeimbangkan antara prioritas atau tanggung jawab awal terhadap diri sendiri dan orang tua dan tanggung jawab organisasinya. Saya kasi empat jempol deh buat aktivis yang bisa lulus tepat waktu. 

Selalu katakan "mampu"
Fikiran kita harus punya setting bahwa kita mampu menghadapi rutinitas sebagai mahasiswa dengan segala konsekuensinya. Konsekuensinya adalah rasa malas yang kadang datang, apalagi ketika mengerjakan skripsi. Kalau udah kayak gitu, ambil air wudhu, shalat, lalu banyakin istighfar. Inget tuh orang tua kita di rumah yang berlelah-lelah cari uang untuk sekolah kita, kita malah asik-asikan maen, belanja, nongkrong, pacaran, dan mengabaikan tanggung jawab kita menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Yuk action ! Jangan dibuat beban, skripsi itu mudah koq kalau kita katakan "mudah".

Yuk senyum
Nah, kalau kita tau dan sadar akan tanggung jawab kita terhadap orang tua dan diri sendiri tentunya, kita akan melaksanakan semua itu dengan rasa percaya diri dan yakin bahwa kita mampu mengukir senyum di wajah orang tua kita. Cepatnya kita menyelesaikan studi ini adalah kebanggaan buat orang tua dan kebanggaan untuk kita sendiri karena kita mampu mengurangi beban orang tua dan menjadi awal untuk membahagiakan orang tua kita.

Yuk Senyum ('_^))

Rabu, 25 April 2012

Sepenggal tentang Abdul Qadir Jaelani

Abdul Qadir Jaelani selalu berpakaian khas ulama, berselendang (serban), menunggang keledai, berbicara di atas kursi yang tinggi. Terkadang ia berjalan beberapa langkah di udara di atas kepala orang-orang yang hadir, lalu kembali ke kursinya. Ia pernah berkata : Aku pernah melewati hari-hariku tanpa makan sama sekali. Ketika itu datang seseorang membawa wadah yang ternyata berisi sejumlah dirham dan makanan di atasnya. Akupun mengambil sekerat roti, lalu duduk menyantapnya. Namun tiba-tiba di hadapanku ada secarik kertas yang bertuliskan "Allah SWT mengatakan di dalam sebagian Kitab yang diturunkan-Nya bahwa 'nafsu makan itu hanya dijadikan bagi makhluk-makhluk-Ku yang lemah agar mereka sanggup (bertenaga) untuk melaksanakan ketaatan kepada-Ku. Sedangkan bagi mereka yang kuat, maka nafsu makan itu tidak perlu bagi mereka". Membaca tulisan itu, aku segera meninggalkan makanan itu lantas pergi".
Abdul Qadir Jaelani juga pernah berkata : Aku pernah memikul beban yang sangat berat. Beban itu begitu berat, sehingga andaikan ia ditaruh di atas gunung, pastilah gunung itu akan ambruk karena tak kuasa memikul beban itu. Namun setiap kali aku memikul beban berat, terlebih dahulu aku bersimpuh di atas tanah lalu membaca QS. al-Insyirah : 5-6, yang berbunyi : "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". Kemudian barulah aku mulai mengangkat benda itu dan ternyata beban yang begitu berat menjadi enteng bagiku".
Pernah ada orang bertanya kepada Abdul Qadir Jaelani, "Bagaimana cara membebaskan diri dari 'ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri)?" Beliau menjawab, "Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Allah, ingatlah bahwa Dia-lah yang memberi taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Jika sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut". Saat ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa kami tidak pernah melihat lalat hinggap di bajumu?" Beliau menjawab, "(memangnya) apakah yang mau diambilnya dariku, sedang manisan dunia dan madu akhirat tidak ada padaku sedikitpun".
Saat ditanya tentang cara memperoleh semangat (untuk beribadah) beliau menjawab, "Caranya adalah dengan menelanjangi (membebaskan) diri dari kecintaan terhadap dunia, mempertautkan jiwa hanya dengan akhirat, menyatukan kehendak hati dengan kehendak Tuhan, dan membersihkan batin dari ketergantungan terhadap makhluk". Saat ditanya tentang menangis, beliau berkata, "Menangislah kamu karena Allah, menangislah karena jauh dari-Nya dan menangislah untuk-Nya". Saat ditanya tentang dunia, beliau berkata, "Keluarkanlah ia dari dalam hatimu ke dalam tanganmu ! Dengan begitu ia tidak akan mencelakakanmu". Dan ketika ditanya tentang syukur, beliau berkata, "Hakekat syukur adalah mengakui dengan penuh ketundukan terhadap nikmat Si Pemberi nikmat, mempersaksikan karunia-Nya dan memelihara kehormatan-Nya dengan menyadari bahwa kita tidak akan sanggup untuk bersyukur dalam artian yang sebenarnya".
Beliau berkata. "Orang miskin yang sabar karena Allah menghadapi kemiskinannya adalah lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur kepada-Nya. Orang miskin yang bersyukur adalah lebih baik dari kedua orang di atas. Sedangkan orang miskin yang sabar dan bersyukur adalah lebih baik dari mereka semua. Tidak ada yang sabar menjalani ujian kecuali orang yang tahu akan hakekat ujian tersebut".
Ketika ditanya tentang al-baqa' (keabadian), beliau menjawab, "Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Tuhan, sedangkan perjumpaan dengan Tuhan itu adalah seperti kedipan mata atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan Tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab, keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.
Beliau pernah berkata, "Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu dan dirimu adalah tabir penghalang bagi Tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak dapat melihat dirimu dan selama kamu melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak dapat melihat Tuhanmu".
Setelah nama Syekh Abdul Qadir Jaelani semakin terkenal, berkumpullah seratus orang ulama di Baghdad, mereka bermaksud menguji keluasan ilmunya. Setiap orang dari mereka telah mempersiapkan pertanyaannya masing-masing. Namun ketika beliau masuk ke dalam majelis, mereka melihat ada kilatan cahaya keluar dari dadanya. Cahaya itu melewati dada-dada mereka satu persatu dan menghapus pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka begitu tersentak dengan kejadian itu, lalu buru-buru menanggalkan pakaian khas keulamaan mereka. Setelah itu barulah ia naik ke atas kursi dan mulai berbicara, yang dalam pembicaraannya itu ia menjawab seluruh pertanyaan yang telah terhapus dari dada-dada mereka yang belum sempat mereka sampaikan. Semua ulama yang hadir dalam majelis itu menjadi tunduk dan mengakui keutamaan dan keluasan ilmunya.
Di antara akhlak beliau yang sangat mulia dan agung adalah selalu berada di samping orang-orang kecil dan para hamba sahaya untuk mengayomi mereka. Beliau senantiasa bergaul dengan orang-orang miskin sembari membantu membersihkan pakaian mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mendekati para pembesar atau para pembantu negara. Juga sama sekali tidak pernah mendekati pintu rumah seorang menteri atau raja.

Minggu, 22 April 2012

Galau

Ketika semua perasaan bercampur, kegelisahan, kerinduan, keterpurukan, ketidakberdayaan diri akan permasalahan yang menjadi batu sandungan dalam kehidupan. Bayangan itu ada menemani tiap langkah, seperti ruh tetapi tidak berwujud yang mengaktifkan imaginasi merasakan keberadaannya di sini. Diri yang dhoif ini sedang merindu, sedang futur, sedang tidak berdaya akan masalah dunia. Hari ini kaki ini lelah, tidak punya daya untuk tetap bertahan, menopang gejolak batin yang selalu membuncah. Rindu pada-Mu Rabb, bersimbuh di hadapan-Mu di malam yang penuh Rahmat. Makhluk-Mu yang dhoif ini butuh genggaman tangan-Mu untuk dapat bertahan menjalani dunia yang fana'.
Ya !!! Begitu kurang lebih ketika manusia futur, merasakan tidak ada lagi kehidupan, merasakan terlalu lelah dan jika ingin dituliskan mungkin banyak lagi keluhan-keluhan yang sebenarnya tidak akan bisa menghilangkan peluh. Sebaiknya lakukan ini :
1. Dzikirlah dengan lisan kita dan Hati kita tetap mengingat Allah SWT
2. Istighfarlah dengan lisan kita dan ingatlah berapa banyak dosa yang kita lakukan di dunia, berapa banyak orang-orang yang kita dhalimi, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya menuruti nafsu dunia
3. Bertahmidlah dengan lisan kita dan di dalam hati menghitung berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita
4. Bertakbirlah menggunakan lisan kita dan hati mengagungkan kebesaran Allah yang luar biasa
5. Khusyuklah ketika melakukannya, lepaskan semua rindu dan ketidakberdayaan diri kepada sang pemberi petunjuk, Insyaallah Allah bersama kita.

Sabtu, 21 April 2012

Tiket untuk sang Isteri

Diajarkan oleh Rasulullah bahwa seorang suami tidak boleh membiarkan mata isterinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari.
Engkau lelaki yang dipilih Allah untuk menjadi suaminya, bersabarlah terhadap isterimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya. Dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka, jangan menghardiknya dengan kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan dirimu sendiri. Sebab ia adalah pakaianmu.
nanti kamu akan ditanya tentang bagaimana kamu mengurus isterimu dan tanggung jawabmu menjaga jalan surga untuk bisa dilalui olehnya.
Kamu imam dunia akhirat untuk isterimu. Bukankah engkau juga yang akan membawanya hingga ke Baka dan memberinya satu tiket ke surga.
Buatlah isterimu tersenyum menuju surga atas tiket darimu.
(Copy Paste dari seorang sahabat)

Wasiat Abu Bakar kepada Umar Bin Khattab

Wasiat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kepada Umar Bin Khattab :"Aku wasiatkan kepadamu semoga kamu menerimanya. Sesungguhnya Allah memiliki hak pada malam hari yang tidak diterima ketika dilaksanakan di siang hari. Demikian juga Allah memiliki hak pada siang hari yang tidak diterima jika dilakukan pada malam hari. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan sunnah sebelum melaksanakan amalan wajib"