Rabu, 25 April 2012

Sepenggal tentang Abdul Qadir Jaelani

Abdul Qadir Jaelani selalu berpakaian khas ulama, berselendang (serban), menunggang keledai, berbicara di atas kursi yang tinggi. Terkadang ia berjalan beberapa langkah di udara di atas kepala orang-orang yang hadir, lalu kembali ke kursinya. Ia pernah berkata : Aku pernah melewati hari-hariku tanpa makan sama sekali. Ketika itu datang seseorang membawa wadah yang ternyata berisi sejumlah dirham dan makanan di atasnya. Akupun mengambil sekerat roti, lalu duduk menyantapnya. Namun tiba-tiba di hadapanku ada secarik kertas yang bertuliskan "Allah SWT mengatakan di dalam sebagian Kitab yang diturunkan-Nya bahwa 'nafsu makan itu hanya dijadikan bagi makhluk-makhluk-Ku yang lemah agar mereka sanggup (bertenaga) untuk melaksanakan ketaatan kepada-Ku. Sedangkan bagi mereka yang kuat, maka nafsu makan itu tidak perlu bagi mereka". Membaca tulisan itu, aku segera meninggalkan makanan itu lantas pergi".
Abdul Qadir Jaelani juga pernah berkata : Aku pernah memikul beban yang sangat berat. Beban itu begitu berat, sehingga andaikan ia ditaruh di atas gunung, pastilah gunung itu akan ambruk karena tak kuasa memikul beban itu. Namun setiap kali aku memikul beban berat, terlebih dahulu aku bersimpuh di atas tanah lalu membaca QS. al-Insyirah : 5-6, yang berbunyi : "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". Kemudian barulah aku mulai mengangkat benda itu dan ternyata beban yang begitu berat menjadi enteng bagiku".
Pernah ada orang bertanya kepada Abdul Qadir Jaelani, "Bagaimana cara membebaskan diri dari 'ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri)?" Beliau menjawab, "Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Allah, ingatlah bahwa Dia-lah yang memberi taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Jika sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut". Saat ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa kami tidak pernah melihat lalat hinggap di bajumu?" Beliau menjawab, "(memangnya) apakah yang mau diambilnya dariku, sedang manisan dunia dan madu akhirat tidak ada padaku sedikitpun".
Saat ditanya tentang cara memperoleh semangat (untuk beribadah) beliau menjawab, "Caranya adalah dengan menelanjangi (membebaskan) diri dari kecintaan terhadap dunia, mempertautkan jiwa hanya dengan akhirat, menyatukan kehendak hati dengan kehendak Tuhan, dan membersihkan batin dari ketergantungan terhadap makhluk". Saat ditanya tentang menangis, beliau berkata, "Menangislah kamu karena Allah, menangislah karena jauh dari-Nya dan menangislah untuk-Nya". Saat ditanya tentang dunia, beliau berkata, "Keluarkanlah ia dari dalam hatimu ke dalam tanganmu ! Dengan begitu ia tidak akan mencelakakanmu". Dan ketika ditanya tentang syukur, beliau berkata, "Hakekat syukur adalah mengakui dengan penuh ketundukan terhadap nikmat Si Pemberi nikmat, mempersaksikan karunia-Nya dan memelihara kehormatan-Nya dengan menyadari bahwa kita tidak akan sanggup untuk bersyukur dalam artian yang sebenarnya".
Beliau berkata. "Orang miskin yang sabar karena Allah menghadapi kemiskinannya adalah lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur kepada-Nya. Orang miskin yang bersyukur adalah lebih baik dari kedua orang di atas. Sedangkan orang miskin yang sabar dan bersyukur adalah lebih baik dari mereka semua. Tidak ada yang sabar menjalani ujian kecuali orang yang tahu akan hakekat ujian tersebut".
Ketika ditanya tentang al-baqa' (keabadian), beliau menjawab, "Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Tuhan, sedangkan perjumpaan dengan Tuhan itu adalah seperti kedipan mata atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan Tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab, keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.
Beliau pernah berkata, "Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu dan dirimu adalah tabir penghalang bagi Tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak dapat melihat dirimu dan selama kamu melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak dapat melihat Tuhanmu".
Setelah nama Syekh Abdul Qadir Jaelani semakin terkenal, berkumpullah seratus orang ulama di Baghdad, mereka bermaksud menguji keluasan ilmunya. Setiap orang dari mereka telah mempersiapkan pertanyaannya masing-masing. Namun ketika beliau masuk ke dalam majelis, mereka melihat ada kilatan cahaya keluar dari dadanya. Cahaya itu melewati dada-dada mereka satu persatu dan menghapus pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka begitu tersentak dengan kejadian itu, lalu buru-buru menanggalkan pakaian khas keulamaan mereka. Setelah itu barulah ia naik ke atas kursi dan mulai berbicara, yang dalam pembicaraannya itu ia menjawab seluruh pertanyaan yang telah terhapus dari dada-dada mereka yang belum sempat mereka sampaikan. Semua ulama yang hadir dalam majelis itu menjadi tunduk dan mengakui keutamaan dan keluasan ilmunya.
Di antara akhlak beliau yang sangat mulia dan agung adalah selalu berada di samping orang-orang kecil dan para hamba sahaya untuk mengayomi mereka. Beliau senantiasa bergaul dengan orang-orang miskin sembari membantu membersihkan pakaian mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mendekati para pembesar atau para pembantu negara. Juga sama sekali tidak pernah mendekati pintu rumah seorang menteri atau raja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar