Selasa, 31 Juli 2012

Di mana keberadaanku?

Perjalanan panjang ini adalah proses, proses di mana bukan hanya hatiku yang ingin dimengerti, tapi penalaran-penalaran logika yang harusnya menjadi pertimbangan untuk menapaki hidup yang lebih dahsyat dari ini...
"eksistensi" yang dulu aku cari, kini sudah tidak terlalu penting. Ntah dengan pertimbangan apa aku mengabaikan itu semua. Hati dan fikiran menjadi rival lalu masing-masing berorasi menunjukkan keunggulan visinya. Mereka tidak sadar bahwa mereka ada dalam satu tubuh. Ya ! Tubuh ku.
Selalu terselip keinginan ada di barisan paling depan lalu berteriak "aku ini harus bagaimana?" Tapi selalu urung aku lakukan dengan dalih yang sederhana "bisakah menyelesaikan pertempuran batinmu?" Memang tidak akan pernah bisa. Sikap-sikap seperti itu hanya luapan nafsu yang mendesak ingin dimengerti. Lalu siapa yang bisa mengerti? Karena memang bukan untuk dimengerti.
Tuhan memperlakukan aku seperti ini karena ingin aku berfikir. Layaknya seorang manusia yang diberi kelebihan "fikiran" untuk diaktifkan. Lalu, apa patokan kebenaran yang sebenarnya? Karena terkadang, pembenaran-pembenaran lah yang mendominasi kehidupan ini.
Aku sulit untuk meng-eja petunjuk yang telah KAU beri. Peta dari-MU pun terkadang membuatku salah jalan menuju tujuan akhir. Inikah yang disebut proses? Menguatkan pondasiku terlebih dahulu sebelum aku benar-benar harus menghadapi kenyataan yang lebih pahit dari ini?
Tuhan, sungguh panjang perjalanan ini. Tempat persinggahan yang KAU suguhkan bukan hanya membuka mataku, tapi semakin dahsyat pertempuran batin dan fikiranku. Lagi-lagi inikah yang dinamakan proses dan pendewasaan? Mengajarkanku untuk bijak memilih dan bertanggung jawab atas pilihanku.
Aku tidak bisa membiarkan serakan itu masih saja berhamburan, sedang aku hanya mematung di depannya. Terkadang, aku paksaan diri memungut serakan-serakan itu di bawah derasnya hujan, aku tidak peduli seberapa dahsyat hujan menampariku, aku tidak peduli seberapa hebat hujan membuatku menggigil, yang pasti, aku sudah mampu berbuat. Tapi, ada masa di mana aku harus menyaksikannya dari kejauhan. Menyaksikannya diguyur hujan, menyaksikannya disapu angin, dan menyaksikannya tanpa teman...
Aku tidak peduli aku sebagai apa di sini, aku tidak peduli bagaimana kau meresponku, dan aku tidak peduli seberapa berartinya aku. Yang aku tau, aku ingin mengumpulkan serakan itu menjadi bangunan yang indah karena aku peduli.

Senin, 14 Mei 2012

Ayah

Ayah...
57 tahun telah ayah lewati
Masa-masa tersulit ayah jalani dengan kesabaran
Berdakwah di jalan-Nya karena terpanggil dan turut serta bertanggung jawab terhadap sisi religiusitas umat
Memperjuangkan hak-hak orang banyak

Terkadang, ayah menggunakan sisi "tidak enak" terhadap orang lain
Mungkin karena budaya jawa yang melekat pada diri ayah
Tapi itu yang tertular pada kami
Setidaknya untuk menjaga kesopanan dalam bersikap pada orang lain

Ayah...
Kesabaran yang kami lihat, membuat kami bohong untuk tidak menyayangimu
Keistiqomahan yang tersirat dari konsistensi amalan yang ayah jalani setiap hari, menjadikan ayah sebagai figur yang kami hormati
Kelembutan dari setiap tutur kata yang ayah ucapkan, membuat kami terdiam dan menjadi pendengar setia ketika ayah menceritakan jalan hidup ayah yang luar biasa

Air mata ini menetes ketika kami mengingat perjuanganmu ayah
Perjuangan menyelamatkan keluarga kecil kita
Ketenangan yang selalu ditunjukkan dalam menyikapi setiap persoalan hidup, membuat kami semakin bangga terhadapmu ayah
Hati kami perih ketika ayah tidak sanggup menahan air mata yang menunjukkan ketidakberdayaan ayah

Ayah...
Banyak guratan di wajahmu menunjukkan usiamu yang sudah sepuh
Mungkin sudah waktunya ayah menikmati hari-hari tua bersama ibu
Memperbanyak ibadah dan amalan sunnah
Memperbanyak bekal untuk bertemu dengan Tuhan

Ijinkan kami merawatmu ayah
Melayanimu
Mengabdikan diri sebagai anak untuk membayar semua yang ayah lakukan terhadap kami
Meskipun kami tidak bisa menyamai apa yang ayah lakukan

Selamat ulang tahun ayah
Doa selalu kami sisipkan untukmu ayah
Kami sayang padamu...

Minggu, 13 Mei 2012

Harapan Besar Untukku Mas

Foto ini diambil sekitar pertengahan tahun 2006, kira-kira Mas berusia 7 tahun. Di keluarga kami, dia dipanggil Mas karena memang masih ada Fatimah Zahra setelah kelahiran dia dan dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga kami. Nama lengkapnya "Ahmad Fauzi". Kelahiran dia adalah keberuntungan dalam keluarga kami. Ayah dan ibu sangat mendambakan anak laki-laki setelah saya lahir, karena dulu sebelum kelahiran saya, ayah dan ibu sempat memiliki anak laki-laki tapi Allah mengambilnya di usia 1 tahun. Allah begitu menyayangi Mas Arif hingga mengambilnya kembali. Allah tidak ingin Mas Arif tersiksa karena sakitnya di usia yang sangat muda.

Dia adalah adek kami, panggilannya Mas Ozi. Memang ayah dan ibu sangat berharap anak laki-laki yang bisa menggantikan ayah berjuang, menggantikan ayah untuk melindungi keluarga kami. Ayah ibu selalu menyisipkan doa agar Allah mengaruniai anak laki-laki hingga ayah dan ibu sengaja berdo'a di depan Ka'bah ketika melaksanakan ibadah haji. Saat proses kelahirannya pun ibu berjuang mempertaruhkan nyawanya demi anak yang amat didambakannya. Setelah kelahiran Mas, ibu harus mempertaruhkan nyawanya di ruang operasi untuk di koret karena di dalam kandungan ibu masih tersisa "tembunik" yang harus diambil dan dibersihkan. Luar biasa sekali ibu kami. Tetap kuat dan tetap hebat sampai sekarang.

Mas terlahir pada tahun 1999 karena ijin Allah. Kepalanya yang besar sempat membuat orang berfikir ada kelainan pada diri Mas. Ya !!! Memang ada kelainan. Mas pintar dan cerdas. Itulah yang saya namakan kelainan. Dia dulunya Hiperaktif, selalu ingin tahu apa yang belum pernah dia lihat dan dia dengar. Dan selalu menanyakan pada ayah dan ibu sampai ke akar-akarnya (sampai dia mendapat jawaban yang bisa memuaskan keingintahuannya).

Sangat Luar Biasa adek saya yang satu ini, seluar biasa cita-citanya yang ingin menjadi Dokter. Sejak kecil dia selalu berprestasi, ingatannya kuat, daya tangkapnya cepat, dan jarang belajar selama dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Tapi, dia selalu unggul. Mungkin karena di umur yang segitu, ketika proses belajar di kelas dia benar-benar mendengar, memperhatikan dan menyerap apa yang disampaikan gurunya. Jadi di luar kelas dia tidak mereview lagi pelajaran yang sudah dipelajarinya. Tapi, sekarang ini tidak bisa seperti itu lagi. Dia harus belajar dan melatihnya dengan mempelajarinya lagi ketika di luar kelas. Semakin diasah maka akan semakin tajam. Dan harusnya dia seperti itu. Mengasah kemampuan dan pengetahuan yang ia dapat agar semakin tajam ilmu yang dia dapatkan.

Di umur 12 tahun, dia harus terpisah dari ayah ibu untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta. Keputusan yang tepat untuk memasukkan dia di Pondok Pesantren yang di dalamnya ratusan santri menuntut ilmu di sana. Harapannya, Mas bisa keluar dari tempurung dan siap bersaing dengan santri lainnya di seluruh Indonesia. Dan ternyata Mas mampu melaksanakan itu. Di semester awal, Mas menyabet pringkat 1 di kelasnya. Semester 2 targetnya Mas harus bisa menyabet juara umum meskipun tidak juara 1 (skala : keseluruhan santri angkatan 2011). Dan Target jangka panjang, Mas bisa melanjutkan Pendidikan Strata Satu nya di luar negeri melalui beasiswa.

Masih ada 5 tahun ke depan untuk menyiapkan itu. Terutama yang harus disiapkan adalah pondasi agama yang kokoh. Dengan pondasi itu maka akan menjadi pegangan dia untuk menjalani kehidupan yang semakin menantang dan menjadi bekal dia untuk berdakwah. Ketika itu sudah dia dapat dan mengakar di dalam jiwanya, Insyaallah Allah selalu membimbing dia di jalan yang benar.

"Mas, harapan besar ada di pundakmu. Tetap semangat dan tetap berproses membentuk mental yang kuat, mental yang berlandaskan rasa percaya diri dibarengi dengan rasa empati dan keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak yang kita lakukan. Kita tunggu 5 tahun ke depan seperti apa kamu nantinya Mas"

Minggu, 06 Mei 2012

Diam mu

Bisakah dikatakan karena alasan "rasa" ia masih bertahan ???
Di perjalanan panjangnya tertiup angin kencang yang membuat tubuh mungilnya ambrug
Mengumpulkan serakan demi serakan yang katanya sulit terkumpulkan
Bukan enggan bernafas mengiringi nafasnya
Atau tidak mau mengikuti langkah geraknya
Tapi karena itu, karena ingin mengumpulkan serakan untuk membentuknya menjadi bangunan yang cantik dan sistematis

Dia yang mengajarkan aku untuk berbuat sesuatu
Dia yang menguatkan tubuh mungilku dulu ketika sempat melemah
Dia yang mengajarkan aku menengadahkan tangan pada Tuhanku
Dia yang mengingatkan untuk menemui Tuhanku di sepertiga malam
Dia juga mengingatkan untuk menyempatkan sholat sebelum tidur ketika dia khawatir aku tidak terjaga di sepertiga malam
Dan Dia yang menyuntikkan semangat tiap paginya

Tapi
Dia juga yang membiarkan tanda tanya bertengger dalam fikiranku
Membiarkan aku memfungsikan fikiranku dan mengaktifkan fikiran positif
Dia yang membiarkanku disudut kota menantinya yang memang sengaja tidak datang
Dia yang tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk memperdulikan hidupnya
Dan dia tidak memberikan aku ruang untuk mengeluhkan ketidakberdayaanku

Bukan karena dia tidak punya rasa atau tidak peduli terhadapku
Tapi karena dia ingin memuliakan aku sebagai wanita
Dia ingin aku kuat ketika nantinya dia tidak bisa menggandeng tanganku
Dia ingin menjaga aku dengan menyerahkanku pada sebaik-baik Penjaga

Mungkin banyak kebohongan yang dia tunjukkan kepadaku
Kebohongan atas kejujuran yang belum layak dia katakan sekarang
Tapi, matanya tidak akan bisa berbohong
Kepeduliannya, Sayangnya, dan Harapannya kepadaku tersirat pada sikap diamnya !!!

Hope

Aku tidak berharap merasakan seperti ini
Bahkan ketika kaki ini merasakan lelah, aku terus melangkah dan mengabaikan apa yag aku rasa
Bukan tanpa keyakinan
Karena aku yakin, Tuhan menyertai langkahku

Aku rendahkan harga diri depan Tuhan lewat sujud panjangku
Aku sisipkan harapan kecil ketika tangan menengadah bagai pengemis yang meminta belas kasih





Aku tidak meminta pada makhluk-MU Rabb
Aku meminta pada pemiliknya langsung
Ya !!!
Engkau yang memilikinya
Engkau yang berhak atas dirinya
Engkau yang menggerakkan hatinya

Aku tidak ingin memaksa MU melalui doa-doa ku
Aku pun tidak ingin dia terpaksa karena keinginanku
Mungkin akan indah jika dia tergerak karena kecintaannya kepada-MU
Menjemputku dan menggandeng tanganku lalu bersama-sama meraih cinta Hakiki-Mu

Tuhan...
Jangan biarkan aku lelah
Jangan biarkan hati ini mengeras karena kelelahan yang kadang mendera
Jangan biarkan rasa ini hilang hingga aku takut untuk merasakannya lagi

Biarkan aku merasakan keajaiban yang sering kali KAU hadirkan dalam hidupku
Biarkan aku mengeja petunjuk yang datang tersirat dari setiap doaku
Biarkan aku terus belajar menyayanginya karena MU
Dan biarkan aku mencintanya karena kecintaanku kepadaMU yang luar biasa
Ini semua karena kuasa MU Tuhan...


Semangat Mereka, Semangatku juga !!!

Mungkin jika dikatakan lelah, kami sangat lelah. 7 hari kami habiskan di ruang kuliah dan perpustakaan. Rute yang kami lewati pun hanya itu-itu saja. Jalan menuju kampus dan jalan pulang menuju kos. Membosankan. Alternatif lain adalah disiasati menyusuri jalan berbeda yang mungkin sedikit agak jauh ketimbang jalan yang biasa dilewati. Setidaknya mata ini tidak jenuh memandangi bangunan ataupun toko-toko yang sama setiap harinya. Ingin sebenarnya seperti masa-masa kuliah S1, banyak waktu luang yang tidak kami manfaatkan atau lebih tepat kami habiskan untuk menikmati kota Jogja, tapi beban yang dirasa tidak sama seperti dulu ketika kuliah Strata Satu. Pundak ini berat menanggung amanah dari orang tua, amanah dari orang banyak dan label S2 yang melekat. Mungkin pertanyaan sederhananya, "Saya bisa apa sekarang ini dengan menyandang mahasiswa Pasca Sarjana?" dan "Setelah lulus dan menyandang gelar Magister, kontribusi apa yang bisa saya berikan untuk sekitar?".
Insyaallah tidak berat. Ya!!! Karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai semangat luar biasa, diajar oleh dosen-dosen yang luar biasa, dan diberikan donor semangat dan doa oleh mereka-mereka yang sayang kepada saya terutama ayah dan ibu.
Mungkin kami tidak sehebat mahasiswa dalam film "Love Story In Harvard", tapi kami ingin mengikuti jejak mahasiswa di sana yang tanpa lelah dan hari-harinya memang diisi dengan belajar, belajar dan belajar. Luar biasa. Dan saya sungguh beruntung karena saya di sini dikelilingi oleh mereka-mereka yang mempunyai visi yang sama. Di mata mereka tersirat semangat pantang menyerah. Saya akan malu jika saya kalah start dari mereka dan saya juga akan malu jika saya tidak bisa berhasil bersama mereka. 

Rabu, 02 Mei 2012

Untuknya

Senyum sempat mengembang ketika imajinasi ini berselancar jauh
Memberikan peran pada fikiran untuk aktif dalam skenario yang tanpa script
Indah...
Seakan dekat...
Ya !!!
Karena Tuhanku yang mendekatkan

Aku tidak pernah lelah menyapanya
Lima kali sehari aku menyempatkan diri tersenyum untuknya
Mungkin lebih dari itu
Apalagi di sepertiga malam, aku serasa dekat karena Tuhanku

Melewati Tuhanku aku menyapanya
Melewati Tuhanku aku bisa tersenyum untuknya
Melewati Tuhanku harapan-harapanku untuknya tersampaikan
Karena Tuhanku aku tidak merasa sendiri
Ini bukan hanya sekedar imajinasi, tapi keyakinan kuat yang melekat
Tuhanku tidak pernah bohong dengan janjinya !!!

Tuhanku hebat sekali, menciptakan makhluk yang luar biasa dalam imajinasiku
Dan aku yakin, sekali lagi ini bukan hanya imajinasi

Aku menjadi pantas karena aku yakin KAU memantaskan dia di sana
aku tidak pernah mengkhawatirkan itu
karena sekali lagi aku yakin Tuhan tidak pernah bohong dengan janjinya !!!

Tuhan, Jaga dia di sana
Pantaskan dia
Lindungi dia
Iringi langkahnya
Ingatkan ketika dia lalai
Sentuh dia dengan kasih sayang MU ketika dia lelah atas urusan dunia ini
Mudahkan segala urusannya

Kutitipkan Rindu ini kepada MU Tuhan
Karena memang KAU yang lebih berhak atas rindu ini

Terima Kasih Tuhan
('_^))

Jumat, 27 April 2012

Agustus 2010

Ini adalah awal dari keberhasilan saya, berhasil mengukir senyum di wajah ayah dan ibu, berhasil membuat beliau menangis bangga. Mungkin itu juga yang dirasakan kebanyakan sarjana di luar sana. 3 tahun 9 bulan saya tempuh bukan tanpa halangan. Datang ke kota pelajar ini dengan berbekal ijazah SMA dan semangat. Semangat menuntut ilmu dan semangat mengukir mimpi. Seperti pepatah arab yang mengatakan "Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina". Kalau boleh saya plesetkan sedikit, "Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Ngayogyakarto". Inilah impian saya ketika masih duduk di bangku SMP, bisa merasakan atmosfer kota Yogyakarta bahkan sekarang saya mendapat lebih dari itu.  Energi saya semakin bertambah ketika memandangi mata si pemilik wajah teduh. Ayah. Matanya menyiratkan harapan-harapan besar pada putri kecilnya, do'a ibu pun tidak luput mengiringi langkah saya. Tahun 2006 pasca gempa Jogja, saya pijakkan kaki di bandara Adi Sudjipto Yogyakarta. Puing-puing sisa reruntuhan akibat gempa masih bisa saya nikmati ketika mata ini menyapu lembut kota penuh budaya dan penuh keramahtamahan. Saya mulai menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri dan santri di salah satu Pondok Pesantren di Yogyakarta. Ya ! Ayah dan ibu terlalu peduli dan khawatir hingga saya harus ditempatkan di pondok pesantren, dengan harapan selain bisa menambah kegiatan dan memperkuat basic agama, ayah ibu juga berharap putri kecilnya ini dijaga oleh orang-orang yang bertanggung jawab.
Target harus dirancang sedetail mungkin untuk beberapa tahun ke depan. Karena, hari ini bukan dimulai dari pagi tadi. Mau jadi apa jika kita tidak merencanakan apa yang ingin kita gapai. Bahkan seharusnya kita harus membuat schedule untuk hari ini, besok dan seterusnya. Dan jangan lupa sertakan deadline agar kita termotivasi untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita. Setiap hari kita harus menghasilkan sebuah program bermanfaat dalam hidup kita, dan akan lebih baik jika bisa bermanfaat juga untuk orang lain. Misalnya, dalam sehari kita bisa mengkhatamkan 2 juz ayat-ayat al-Qur'an minimal, mengikuti seminar-seminar yang membangun, mengikuti kajian-kajian yang menguatkan keimanan, membaca buku-buku bermanfaat, bersedekah, mengerjakan tugas kuliah, dan mungkin banyak kegiatan yang kita lakukan yang bukan kita sendiri yang mengambil manfaat tapi orang lain juga bisa merasakan manfaatnya.
Yuk, kita lakukan ini bareng-bareng :

Niat
Niat menjadi hal yang pertama dan utama ketika kita melakukan sebuah pekerjaan (amal), apalagi pekerjaan itu merupakan bagian dari hajat terbesar kita. Dan jangan lupa, selalu memperbaharui niat kita karena di pertengahan jalan pasti banyak yang kita hadapi dan banyak halangan yang bisa  membelokkan niat awal kita.

Minta restu orang tua
Ridho nya Allah selalu mengiringi ridho ayah dan ibu. Apalagi seorang ibu, do'a-do'a yang dipanjatkan untuk anaknya akan memberi kontribusi besar bagi kemudahan hajat yang dilakukan sang anak. Buat yang jauh dari orang tua, yuk biasakan kirim SMS tiap pagi ke ayah dan ibu untuk minta do'a agar Allah memudahkan urusan setiap harinya. Syukur-syukur kita bisa telfon beliau. Buat yang belum bisa mandiri alias belum berani nuntut ilmu ke tempat yang jauh, datangi ayah ibu lalu cium tangannya sambil bilang, "ayah, ibu, minta do'a restunya agar Allah memudahkan urusan hari ini". Gampangkan !!!

Buat Target
Yuk kita bikin kreasi yang bisa mempercantik kamar dan pastinya menyegarkan semangat kita jika melihat hasil kreasi yang luar biasa. Kreasi itu adalah Target kita dan Mimpi-mimpi kita. Boleh koq ditulis gede-gede apalagi kalau mau diwarnai g ada yang ngelarang. Target yang kita tulis di dinding-dinding kamar itu sebagai pengingat bahwa kita punya mimpi yang harus kita realisasikan. Target yang kita buat harus serinci mungkin. Misalnya, target lulus maximal 4 tahun. Lalu kita rinciin mata kuliah apa aja yang diambil persemester yang nantinya di semester akhir kita g kelimpungan gara-gara ada mata kuliah yang ketinggalan alias belum keambil. Masih mending mata kuliahnya bisa diambil di semester 7 atau 8, masih bisa dikejar dan disambi ngerjain skripsi, lha kalau baru tau semester 8 dan mau g mau diambil semester 9 atau lebih parah lagi semester 10, waaah bisa nangis sambil guling-guling. Yuk, jadi mahasiswa berencana. Merencanakan hajat-hajat yang luar biasa. Dinding kamar kita juga boleh koq dipenuhi kalimat-kalimat motivasi. Misalnya, kalimat motivasi dari someone yang nempel di dinding kamar saya. Luar biasa tuh kalimat bisa jadi cambuk buat saya ketika saya galau (bahasa gaulnya kalau lagi males belajar)
"Kalau kamu ga ngerasa tertantang, ya udah main di belakang layar aja !
 Ga usah jadi sang juara
 Ga usah hidup di dunia nyata
 Ga usah kuliah jauh-jauh di jogja
 Dan minta jangan dilahirin aja"
Semoga dia juga termotivasi dan jauh lebih bersemangat dari saya. Spasiba Balshoi ^^

Pasang target IPK
Grade Point Average (IPK) menjadi tolok ukur seberapa jauh kemampuan kita di tiap semester. Ya! kita harus menargetkan setiap semester berapa IPK yang kita dapat. Misal, Semester 1 harus bisa Cumlaude, minimal 3.51 deh. Semester 2 bisa di atas itu dan seterusnya. Kalau ada mata kuliah yang g lulus, yuk segera perbaiki atau kita perbaiki mata kuliah yang kita ambil semester berikutnya. Bisa tuh mata kuliah yang ngulang kita selipin di semester yang mata kuliahnya agak longgar (sks nya dikit). Bisa juga ambil Semester Pendek (SP) untuk perbaiki mata kuliah tersebut. Semoga tidak jadi kemelut dalam hidup kita, karena semua itu mudah jika dalam fikiran kita terkonsep "kita bisa menyelesaikannya".

Rancang kegiatan harian
Wajib lho hukumnya kita buat schedule harian biar kita tau kita ini bisa menghasilkan apa hari ini. Pastinya hal positif dong ya ! Perpustakaan bisa jadi tempat ternyaman lho kalau kita menikmatinya.

Pilih teman yang bisa ikut merealisasikan target
Teman yang baik adalah teman yang membawa manfaat buat orang lain. Nah, cari deh teman yang seperti itu. Yang bisa mengarahkan kita, mengingatkan kita, dan tersenyum ketika kita sukses.

Keseimbangan prioritas dan organisasi
Organisasi adalah tempat di mana mahasiswa mencari kesibukan, mencari jati diri, mencari wadah untuk mengaktifkan kreatifitas dan bakat yang ada dalam diri dan tentunya mencari pengalaman yang sangat berharga di luar ruang perkuliahan. Tapi mahasiswa yang keren dan luar biasa itu, yang punya dua status (mahasiswa & aktivis), yang bisa menyeimbangkan antara prioritas atau tanggung jawab awal terhadap diri sendiri dan orang tua dan tanggung jawab organisasinya. Saya kasi empat jempol deh buat aktivis yang bisa lulus tepat waktu. 

Selalu katakan "mampu"
Fikiran kita harus punya setting bahwa kita mampu menghadapi rutinitas sebagai mahasiswa dengan segala konsekuensinya. Konsekuensinya adalah rasa malas yang kadang datang, apalagi ketika mengerjakan skripsi. Kalau udah kayak gitu, ambil air wudhu, shalat, lalu banyakin istighfar. Inget tuh orang tua kita di rumah yang berlelah-lelah cari uang untuk sekolah kita, kita malah asik-asikan maen, belanja, nongkrong, pacaran, dan mengabaikan tanggung jawab kita menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Yuk action ! Jangan dibuat beban, skripsi itu mudah koq kalau kita katakan "mudah".

Yuk senyum
Nah, kalau kita tau dan sadar akan tanggung jawab kita terhadap orang tua dan diri sendiri tentunya, kita akan melaksanakan semua itu dengan rasa percaya diri dan yakin bahwa kita mampu mengukir senyum di wajah orang tua kita. Cepatnya kita menyelesaikan studi ini adalah kebanggaan buat orang tua dan kebanggaan untuk kita sendiri karena kita mampu mengurangi beban orang tua dan menjadi awal untuk membahagiakan orang tua kita.

Yuk Senyum ('_^))

Rabu, 25 April 2012

Sepenggal tentang Abdul Qadir Jaelani

Abdul Qadir Jaelani selalu berpakaian khas ulama, berselendang (serban), menunggang keledai, berbicara di atas kursi yang tinggi. Terkadang ia berjalan beberapa langkah di udara di atas kepala orang-orang yang hadir, lalu kembali ke kursinya. Ia pernah berkata : Aku pernah melewati hari-hariku tanpa makan sama sekali. Ketika itu datang seseorang membawa wadah yang ternyata berisi sejumlah dirham dan makanan di atasnya. Akupun mengambil sekerat roti, lalu duduk menyantapnya. Namun tiba-tiba di hadapanku ada secarik kertas yang bertuliskan "Allah SWT mengatakan di dalam sebagian Kitab yang diturunkan-Nya bahwa 'nafsu makan itu hanya dijadikan bagi makhluk-makhluk-Ku yang lemah agar mereka sanggup (bertenaga) untuk melaksanakan ketaatan kepada-Ku. Sedangkan bagi mereka yang kuat, maka nafsu makan itu tidak perlu bagi mereka". Membaca tulisan itu, aku segera meninggalkan makanan itu lantas pergi".
Abdul Qadir Jaelani juga pernah berkata : Aku pernah memikul beban yang sangat berat. Beban itu begitu berat, sehingga andaikan ia ditaruh di atas gunung, pastilah gunung itu akan ambruk karena tak kuasa memikul beban itu. Namun setiap kali aku memikul beban berat, terlebih dahulu aku bersimpuh di atas tanah lalu membaca QS. al-Insyirah : 5-6, yang berbunyi : "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". Kemudian barulah aku mulai mengangkat benda itu dan ternyata beban yang begitu berat menjadi enteng bagiku".
Pernah ada orang bertanya kepada Abdul Qadir Jaelani, "Bagaimana cara membebaskan diri dari 'ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri)?" Beliau menjawab, "Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Allah, ingatlah bahwa Dia-lah yang memberi taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Jika sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut". Saat ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa kami tidak pernah melihat lalat hinggap di bajumu?" Beliau menjawab, "(memangnya) apakah yang mau diambilnya dariku, sedang manisan dunia dan madu akhirat tidak ada padaku sedikitpun".
Saat ditanya tentang cara memperoleh semangat (untuk beribadah) beliau menjawab, "Caranya adalah dengan menelanjangi (membebaskan) diri dari kecintaan terhadap dunia, mempertautkan jiwa hanya dengan akhirat, menyatukan kehendak hati dengan kehendak Tuhan, dan membersihkan batin dari ketergantungan terhadap makhluk". Saat ditanya tentang menangis, beliau berkata, "Menangislah kamu karena Allah, menangislah karena jauh dari-Nya dan menangislah untuk-Nya". Saat ditanya tentang dunia, beliau berkata, "Keluarkanlah ia dari dalam hatimu ke dalam tanganmu ! Dengan begitu ia tidak akan mencelakakanmu". Dan ketika ditanya tentang syukur, beliau berkata, "Hakekat syukur adalah mengakui dengan penuh ketundukan terhadap nikmat Si Pemberi nikmat, mempersaksikan karunia-Nya dan memelihara kehormatan-Nya dengan menyadari bahwa kita tidak akan sanggup untuk bersyukur dalam artian yang sebenarnya".
Beliau berkata. "Orang miskin yang sabar karena Allah menghadapi kemiskinannya adalah lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur kepada-Nya. Orang miskin yang bersyukur adalah lebih baik dari kedua orang di atas. Sedangkan orang miskin yang sabar dan bersyukur adalah lebih baik dari mereka semua. Tidak ada yang sabar menjalani ujian kecuali orang yang tahu akan hakekat ujian tersebut".
Ketika ditanya tentang al-baqa' (keabadian), beliau menjawab, "Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Tuhan, sedangkan perjumpaan dengan Tuhan itu adalah seperti kedipan mata atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan Tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab, keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.
Beliau pernah berkata, "Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu dan dirimu adalah tabir penghalang bagi Tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak dapat melihat dirimu dan selama kamu melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak dapat melihat Tuhanmu".
Setelah nama Syekh Abdul Qadir Jaelani semakin terkenal, berkumpullah seratus orang ulama di Baghdad, mereka bermaksud menguji keluasan ilmunya. Setiap orang dari mereka telah mempersiapkan pertanyaannya masing-masing. Namun ketika beliau masuk ke dalam majelis, mereka melihat ada kilatan cahaya keluar dari dadanya. Cahaya itu melewati dada-dada mereka satu persatu dan menghapus pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalamnya yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Mereka begitu tersentak dengan kejadian itu, lalu buru-buru menanggalkan pakaian khas keulamaan mereka. Setelah itu barulah ia naik ke atas kursi dan mulai berbicara, yang dalam pembicaraannya itu ia menjawab seluruh pertanyaan yang telah terhapus dari dada-dada mereka yang belum sempat mereka sampaikan. Semua ulama yang hadir dalam majelis itu menjadi tunduk dan mengakui keutamaan dan keluasan ilmunya.
Di antara akhlak beliau yang sangat mulia dan agung adalah selalu berada di samping orang-orang kecil dan para hamba sahaya untuk mengayomi mereka. Beliau senantiasa bergaul dengan orang-orang miskin sembari membantu membersihkan pakaian mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mendekati para pembesar atau para pembantu negara. Juga sama sekali tidak pernah mendekati pintu rumah seorang menteri atau raja.

Minggu, 22 April 2012

Galau

Ketika semua perasaan bercampur, kegelisahan, kerinduan, keterpurukan, ketidakberdayaan diri akan permasalahan yang menjadi batu sandungan dalam kehidupan. Bayangan itu ada menemani tiap langkah, seperti ruh tetapi tidak berwujud yang mengaktifkan imaginasi merasakan keberadaannya di sini. Diri yang dhoif ini sedang merindu, sedang futur, sedang tidak berdaya akan masalah dunia. Hari ini kaki ini lelah, tidak punya daya untuk tetap bertahan, menopang gejolak batin yang selalu membuncah. Rindu pada-Mu Rabb, bersimbuh di hadapan-Mu di malam yang penuh Rahmat. Makhluk-Mu yang dhoif ini butuh genggaman tangan-Mu untuk dapat bertahan menjalani dunia yang fana'.
Ya !!! Begitu kurang lebih ketika manusia futur, merasakan tidak ada lagi kehidupan, merasakan terlalu lelah dan jika ingin dituliskan mungkin banyak lagi keluhan-keluhan yang sebenarnya tidak akan bisa menghilangkan peluh. Sebaiknya lakukan ini :
1. Dzikirlah dengan lisan kita dan Hati kita tetap mengingat Allah SWT
2. Istighfarlah dengan lisan kita dan ingatlah berapa banyak dosa yang kita lakukan di dunia, berapa banyak orang-orang yang kita dhalimi, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya menuruti nafsu dunia
3. Bertahmidlah dengan lisan kita dan di dalam hati menghitung berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita
4. Bertakbirlah menggunakan lisan kita dan hati mengagungkan kebesaran Allah yang luar biasa
5. Khusyuklah ketika melakukannya, lepaskan semua rindu dan ketidakberdayaan diri kepada sang pemberi petunjuk, Insyaallah Allah bersama kita.

Sabtu, 21 April 2012

Tiket untuk sang Isteri

Diajarkan oleh Rasulullah bahwa seorang suami tidak boleh membiarkan mata isterinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari.
Engkau lelaki yang dipilih Allah untuk menjadi suaminya, bersabarlah terhadap isterimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya. Dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka, jangan menghardiknya dengan kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan dirimu sendiri. Sebab ia adalah pakaianmu.
nanti kamu akan ditanya tentang bagaimana kamu mengurus isterimu dan tanggung jawabmu menjaga jalan surga untuk bisa dilalui olehnya.
Kamu imam dunia akhirat untuk isterimu. Bukankah engkau juga yang akan membawanya hingga ke Baka dan memberinya satu tiket ke surga.
Buatlah isterimu tersenyum menuju surga atas tiket darimu.
(Copy Paste dari seorang sahabat)

Wasiat Abu Bakar kepada Umar Bin Khattab

Wasiat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kepada Umar Bin Khattab :"Aku wasiatkan kepadamu semoga kamu menerimanya. Sesungguhnya Allah memiliki hak pada malam hari yang tidak diterima ketika dilaksanakan di siang hari. Demikian juga Allah memiliki hak pada siang hari yang tidak diterima jika dilakukan pada malam hari. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan sunnah sebelum melaksanakan amalan wajib"